Popular Products

Women Clothes

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

JASA PENGIRIMAn

JASA PENGIRIMAn

Menu - Pages

BTemplates.com

peraih emas sulsel di PON XIX jabar


Inilah Atlet Peraih Emas Sulsel di PON XIX Jabar

19 September 2016





FAJAR, BANDUNG – Kontingen Sulawesi Selatan (Sulsel) hingga saat ini baru mengantongi empat medali emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat, Minggu, 18 September.
Ketiga medali ini dipersembahkan oleh Aditya Wahyudi Muhammad di kelas -60 kg dari cabang olahraga (cabor) judo, emas kedua dari Robby/Anita Tandi pada nomor dance sport cha cha, dan Ivan Otnieliem/Vany Jusak Otnieliem nomor dance sport Rising Star pada dance sport.
Sedangkan emas ketiga dari Hendro Salim dari cabor karate di kelas 84 kg. Adapun emas dipersembahkan Hendro usai mengandaskan perlawan wakil DKI Jakarta, Baskoro Ndaru Murti dengan skor 5-3 di kelas -60 kg.
Untuk Aditya Wahyudi Muhammad di kelas -60 kg setelah mengalahkan pejudo tuan rumah, Jawa Barat, Fendi Martin dengan mencatat kemenangan ipong (telak 10-0).
Sedangkan, Robby/Anita Tandi pada nomor dance sport cha cha, dan Ivan Otnieliem/Vany Jusak Otnieliem nomor dance sport Rising Star pada dance sport usai mengalahkan para pensaingnya utamanya dari tuan rumah, Jawa Barat.
Bagi Hendro, ini adalah emas ketiga kalinya dia persembahkan untuk Sulsel selama berlaga di PON. Mulai Pon XVII 2008 dan XVIII 2012. “Saya belum tahu apakah ini akan menjadi PON terakhir saya. Saya belum memikirkan itu,” ucap Makassar, 18 April 1988.
“Untuk kejuaraan dunia dan SEA Games aku belum berfikir kesana. Karena kemarin-kemarin saya hanya ingin fokus PON ini saja,” tambahnya. (sua)

mengena lebih dekat dengan olahraga memanah



Mengenal Lebih Dekat dengan Olahraga Memanah

Mengenal Lebih Dekat dengan Olahraga Memanah – Jika saat ini sedang ramainya jenis-jenis olahraga keren seperti yoga, pilates dan sejenisnya (bahkan timeline media sosial ikut-ikutan dipenuhi foto-foto adegan fantastis dari olahrga tersebut), entah kenapa saya tertarik pada olahraga memanah.



Memanah? Ya, memanah. Olahraga yang jika dilihat dengan kasat mata sangat sederhana. Hanya membutuhkan busur dan beberapa anak panah plus papan bidikan. Namun, ternyata olahraga satu ini jika ditekuni dengan baik dan semangat, tak hanya akan mampu membidik tepat pada pusat papan sasaran, tetapi juga mampu membidik mata dunia bahwa olahraga memanah tak bisa dikesampingkan.
Saya pun sebenarnya semakin ingin tahu soal olahraga memanah karena salah seorang sahabat blogger di salah satu grup kecintaan saya, ternyata memilih olahraga memanah. Berani mengambil sikap anti mainstream sementara yang lain sibuk dengan olahraga yang boleh jadi lebih menguras banyak dana. Meskipun diberikan gambaran sangat sederhana oleh beliau (baca: Mbak Irul), saya semakin penasaran.
Nah, selang beberapa bulan mengenal lebih dekat dengan olahraga memanah, ada teman saya yang mengajarkan anaknya memanah sejak dini di usia 3 tahun. Katanya, dengan mengajarkan anaknya sejak kecil mengenal olahraga memanah, maka itu juga bentuk mengolah karakter dan pribadi anaknya, selain dari melihat bagaimana perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik. Hmm… saya sih maklum karena melihat keluarga teman saya itu sama persis dengan keseharian Mbak Irul yang sangat islami juga. Saya pun jadi ingat bahwa dulu di zaman Rasulullah, memanah adalah salah satu keahlian para pejuang Islam untuk terus menegakkan kalimat Allah saat berperang melawan musuh-musuh Allah. Dan itu membuat saya semakin bersemangat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda: “Kamu harus belajar memanah karena memanah itu termasuk sebaik-baik permainanmu.” (Riwayat Bazzar, dan Thabarani dengan sanad yang baik)
Semangat tinggi membuat saya pun terus membaca perkembangan olahraga memanah. Saya masih ingat betul bagaimana Mbak Irul mengatakan bahwa memanah tidak hanya sekedar bagaimana melepaskan anak panah dengan bsuur untuk mencapai tepat pada papan bidikan. Banyak factor yang harus diperhatikan sebelum membuat anak panah terlepas dan melesat jauh menuju sasaran, seperti keberadaan angin, orang-orang di sekitar, melatih konsentrasi dan yang paling penting adalah bagaimana mengolah perasaan saat akan memanah. Duh, dalem banget deh… makanya saya kepincut dengan memanah karena kalau bicara perasaan, saya paling nomor satu akan terbuai, eh hehe…
Oiya, ini beberapa fakta penting tentang memanah yang saya ketahui sampai saat ini (*kalau ada yang kurang mohon dimaklumi, namanya juga baru mengenal lebih dekat dengan olahraga memanah):
  • Melatih kesabaran
  • Olahraga tertua di dunia
  • Masuk cabanng olahraga karena sudah terorganisir dengan baik di PON Surabaya tahun 1959
  • Masuk cabang olahraga Olimpiade pertama kali tahun 1900 di Paris.
  • Ada 3 (tiga) jenis busur yang dipakai dalam Olimpiade, yaitu busur standar, busur recurve dan busur compound
  • Jarak pemanah dengan papan bidikan sejauh 70 meter
  • Papan bidikan berdiameter 1,22 meter dengan panjang pusat bidikan dengan permukaan tanah adalah 1,3 meter
  • Bentuk pusat bidikan adalah lingkaran dengan diameter 12,2 cm
  • Indonesia diterima menjadi anggota FITA, Organisasi Federasi Panahan Internasional tahun 1931
Hmm… menulis artikel ini saya juga terbayang-bayang dengan Arjuna dan Karna. Ya, dua tokoh terkenal di kisah Mahabharata. Sayangnya mereka tidak mengenal saya, hehe… Dan yang lebih parah lagi, entah kenapa selalu terbayang emoticon “Gajah + Angin Bertiup” kalau bicara soal Mbak Irul, haha… kalau ada yang sudah paham berarti Anda sangat cerdas… *nah lho… ^_^


Data Pribadi

Data Pribadi

Nama : Agus Riyono
TTL         : Rasau Jaya, 20 Januari 1998
JK         : Laki-Laki
Alamat : Rasau Jaya 
No. Hp : 081522660032
Hobby : Novi, olah raga
Kelas : Teknik Sore
Jurusan : Teknik Informasi

Blogroll

WordPress Themes